RIBA VERSUS SEDEKAH SEBAGAI KONSIDERAN TAZKIYAH AKUNTANSI DAN BISNIS

Ahmad Djalaluddin, Dewi Mumpuni

Abstract


Abstrak: Riba Versus Sedekah sebagai Konsideran Tazkiyah Akuntansi dan Bisnis. Penelitian ini mengungkap konflik antara sedekah versus riba dalam meraih falah (sejahtera). Penelitian ini menggunakan metode al-huda al-minhaji atas Al-Baqarah 276, yang memadukan qauliyah (normatif) dan kauniyah (empiris). Hasil penelitian menunjukkan bahwa riba bukanlah jalan sejahtera. Riba tak memenuhi syarat sebagai sumber kepemilikan syar`i sehingga tasharruf (tindakan) atas hasil riba menjadi tak bernilai. Fenomena empiris menunjukkan hilangnya sumber daya pelaku riba. Adapun sedekah, secara qauliyah dipandang sebagai instrumen yang konsisten dalam sirkulasi harta untuk membangun falah. Meskipun dengan kapasitas yang kecil, pengalaman empiris menunjukkan bahwa sedekah mampu menjaga kesinambungan bisnis yang bebas riba.

 

Abstract: Riba versus Shadaqa as Tazkiya Preamble of Accounting and Business. This study revealed conflicts between shadaqa and riba in achieving al-falah. The method used was al-huda al-minhaji, which combined the normative and empirical aspect from Al-Baqarah: 276. The result of the study showed that riba wasn’t a way of prosperity and didn’t fulfil the qualifications of ownership source in Islam. Therefore all tasharruf thereon become worthless in the world and hereafter. An empirical phenomenon showed there’s a loss of usurer’s resources. Shadaqa, based on normative aspect, could be seen as a consistent instrument in the assets circulation to build al-falah. Empirical experience showed that shadaqa could maintain a free from riba business continuity.


Keywords


riba; sedekah; sejahtera



DOI: http://dx.doi.org/10.21776/ub.jamal.2020.11.3.27

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.